Kolaborasi Proyek Irigasi Pemerintah Melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat, Penduduk Desa, dan Perusahaan Teknologi

Kolaborasi Proyek Irigasi Pemerintah Melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat, Penduduk Desa, dan Perusahaan Teknologi

kolaborasi proyek irigasi pemerintah
Dok. Rejaton

Ketika pemerintah daerah memulai proyek jaringan irigasi baru, mereka membutuhkan lebih dari sekadar dana; mereka membutuhkan keterlibatan petani, kelompok masyarakat, dan mitra lain yang memiliki visi serupa. Inilah esensi Kolaborasi Proyek Irigasi Pemerintah. Tanpa partisipasi masyarakat, saluran air hanya menjadi saluran tanpa jiwa. Namun, ketika warga ikut terlibat, memantau, dan merawatnya, irigasi menjadi nadi ekonomi desa dan bagian dari upaya swasembada pangan nasional.

P3TGAI: Program Swasembada Pangan Berbasis Kolaborasi

Kementerian Pekerjaan Umum memperluas program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) untuk mendukung agenda swasembada pangan. Program ini fokus membangun saluran irigasi tersier di berbagai daerah sentra pertanian. 

Uniknya, P3TGAI tidak hanya membangun fisik saluran, tetapi juga memberdayakan petani. Para petani menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat, sehingga mereka merasakan langsung hasil kerja kerasnya. Tahun 2025, pemerintah mengalokasikan Rp 1,8 triliun untuk 8 000 lokasi; di Nusa Tenggara Barat saja terdapat 282 lokasi dengan target 3 980 tenaga kerja. 

Menurut Kepala BBWS Nusa Tenggara I, program ini murni untuk masyarakat, dengan pengerjaan dilakukan langsung oleh warga. Selain meningkatkan distribusi air dan produktivitas, P3TGAI juga menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal dan mendukung target swasembada pangan pemerintahan Presiden Prabowo.

Kolaborasi Internasional dan Teknologi Hijau

Kolaborasi tidak berhenti di tingkat desa atau nasional. Pemerintah Indonesia bermitra dengan Jepang melalui program “Implementation of Irrigation and Drainage Technology” untuk saling bertukar pengalaman, teknologi, dan gagasan. Kerja sama yang berdasarkan catatan diskusi 21 Juni 2022 ini menjadi bagian dari agenda World Water Forum ke-10 dan diselenggarakan setiap tahun. 

Pertemuan daring pada Februari 2025 menyoroti strategi adaptasi perubahan iklim, seperti efisiensi penggunaan air, sistem perpipaan otomatis, serta penggunaan hazard map untuk mengantisipasi kekeringan. 

Selain itu, Ditjen Sumber Daya Air mengembangkan Integrated Digital Monitoring for Agriculture and Irrigation (IDMAl) yang memanfaatkan citra satelit untuk menghitung indeks tanaman dan menentukan lokasi rehabilitasi irigasi. Teknologi ini mendukung misi swasembada pangan, energi, dan air, serta sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menghemat energi dan melestarikan lingkungan.

Rejaton: Mitra Teknologi Energi Surya untuk Irigasi

Keberhasilan proyek irigasi modern membutuhkan dukungan teknologi yang ramah lingkungan. PT. Reja Aton Energi menawarkan solusi pompa tenaga surya dan sistem irigasi hemat energi. Penggunaan tenaga surya membantu mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional, sejalan dengan strategi penghematan energi pemerintah. Bersama Rejaton, pemerintah daerah dan kelompok masyarakat dapat memperoleh teknologi yang dapat diintegrasikan dengan program P3TGAI atau proyek swasembada lainnya. Jika Anda ingin mengakselerasi Kolaborasi Proyek Irigasi Pemerintah di daerah Anda, Rejaton siap menjadi bagian dari solusi.

KONSULTASI GRATIS

Kontraktor, Pemerintahan, Lembaga Swadaya Masyarakat, Kelompok Tani yang hendak melakukan transisi energi menjadi energi terbarukan. Kami PT. Reja Aton Energi siap menjawab pertanyaan Anda seputar Pompa Air Tenaga Surya dengan segudang manfaatnya. Hubungi kami sekarang juga untuk KONSULTASI GRATIS.

Minato: CS Online Instagram: RejatonPompaSurya Project: Rejaton Projects Facebook: Rejaton Pompa Surya Youtube: @RejatonPompaSurya Tiktok : @RejatonPompaSurya

Writer : Tikawidya (Editor : Kahfi)

Similar Posts

© copyright Reja Aton Energi 2025